Industri

Bajing Semakin Langka, Produktivitas Pohon Kelapa Menurun

produktivitas pohon kelapa

AGROINDUSTRI.ID – Bajing atau tupai merupakan seekor hewan pemakan buah-buahan yang dulunya sering dijumpai dan terkenal saat meloncat dari satu pohon ke pohon lainnya dengan bantuan selaput yang menyerupai sayap di kedua lengan untuk menjaga keseimbangan saat diudara. Apa hubungan tupai atau bajing dengan produktivitas pohon kelapa? berikut adalah salah satu penjelasannya.

 

Populasi Tupai atau Bajing Yang Semakin Langka

 

Tupai atau bajing dalam bahasa jawa keberadaannya dianggap sebagai hewan hama dan seringkali hewan ini menjadi objek buruan. Tupai pada kenyataannya memang hewan pemakan buah-buahan, dan merugikan petani termasuk petani pohon kelapa. Buah kelapa yang dimakan tupai akan jatuh dari pohon ditandai dengan adanya lubang dan membusuk, sehingga mengurangi produktivitas jumlah buah kelapa yang bisa dipanen.

Akan tetapi keberadaan populasi tupai atau bajing ini setelah diamati ternyata membawa pengaruh besar dalam keberlanjutan ekosistem tumbuhan terutama pohon kelapa, beberapa abad yang lalu sampai dengan era modern saat ini baru bisa kita rasakan efeknya secara langsung dari keberadaan satu hewan saja yakni tupai atau bajing bagi para penanam pohon kelapa.

Sekarang ini khususnya di pulau Jawa keberadaan tupai atau bajing semakin jarang, karena lahan perkebunan dan pohon-pohon besar yang menjadi rumah bajing atau tupai ini sudah ditebang untuk dijadikan tempat tinggal. Kondisi tersebut semakin di perparah ketika di desa-desa yang masih terdapat pohon-pohon besar dan area perkebunan dimanfaatkan menjadi arena terbuka bagi para pemburu bajing.

Akibatnya, dari lingkungan yang sudah tidak mendukung serta tidak terkendalinya perburuan liar membuat populasi tupai atau bajing di desa-desa sekalipun menjadi langka.

Efek yang terasa sekarang ini adalah tumbuhan kelapa banyak yang mati karena hama serangga (kwawung), hama serangga ini menyerang bagian daun muda dan batang pohon kelapa yang membuat tanaman tidak bisa tumbuh dan berbuah lagi. Hama ini sejak dari dulu memang sudah ada, tetapi belakangan semakin banyak pohon kelapa yang mati karena hama serangga ini.

Jika saja masih cukup banyak populasi tupai atau bajing, meskipun hewan ini memakan buah kelapa dan mengurangi produktivitas buah kelapa, namun hewan ini ternyata juga memberikan manfaat berupa urine dan kotoran yang ditinggalkan di atas pohon kelapa membuat hama serangga yang menyerang batang pohon ini mati dan sulit berkembang. Ini menjadi semacam anti hama alami yang diberikan kebada alam atas keseimbangan yang terjadi.

Namun, karena keteledoran dan keserakahan manusia yang tidak ingin berbagi dengan alam membuat ekosistem yang tadinya sudah berjalan dengan simbang menjadi berubah dan terjadi ketidak teraturan.

Produktivitas buah kelapa menjadi menurun karena pohon kelapa yang terserang hama serangga (kwawung) ini tidak terlihat secara kasat mata, karena letaknya ada di atas dan sulit diamati. Seiring berjalannya waktu yang terjadi adalah pohon kelapa yang semakin membusuk dan mati akibat tidak adanya anti hama yang diberikan.

 

Agroindustri.id merupakan media yang khusus menyajikan artikel-artikel seputar industri pertanian di Indonesia. Dengan tujuan agar masyarakat lebih mengenal dan memanfaatkan potensi hasil pertanian yang sampai saat ini belum dikelola secara maksimal.

 

Follow Twitter:[email protected]_id

Comments
To Top