Industri

Yang Perlu di Perhatikan Dalam Pengemasan Produk Agroindustri

pengemasan produk agroindustri

AGROINDUSTRI.ID – Pengemasan produk agroindustri yang akan kita bahas yaitu pengemasan dalam produk industri pertanian. Pengemasan merupakan gabungan antara Seni, Desain, Komunikasi, serta teknik atau enginering. Maka dari itu dalam melakukan pengemasan atau menentukan kemasan sebuah produk khususnya produk Agroindustri harus mempertimbangkan hal-hal berikut.

Pengemasan dalam agroindustri merupakan gabungan dari teknologi desain, artistik, enginering serta proteksi bahan. Desain kemasan bukan semata-mata artistik saja, namun ada detail-detail enginering didalamnya. Kesan artistik menjadi faktor yang biasanya dilihat pertama kali oleh seseorang, seperti warna dari kemasan yang bisa membangkitkan kesan tertentu pada produk, Lihatlah Mc Donald, KFC atau gerai makanan yang banyak menggunakan dominasi antara warna merah dan kuning, kombinasi warna merah dan kuning belakangan dipercaya mampu membuat orang yang melihat menjadi lapar dan tergoda dengan produk mereka.

Dalam proses pengemasan ada berbagai macam cara yang bisa dilakukan, misalnya dengan mengetahui OTR atau Oksigen Transmision Reduce cara ini digunakan untuk mengatasi produk agroindustri yang menggunakan tingkat kerenyahan sebagai parameter utama. Untuk menghindari produk mlempem atau tidak renyah yang diakibatkan uap air yang bertambah maka dilakukan pengemasan dengan jenis plastik yang memiliki nilai OTR rendah agar oksigen tidak mudah masuk kedalam kemasan. Jenis kemasan yang biasa digunakan yaitu polivinil etilen, PVC, dsb. Namun perlu diingat bahan yang memiliki permeabilitas uap air rendah memiliki permeabilitas uap air tinggi begitu juga sebaliknya.

Dalam pengemasan sebaiknya dipilih bahan yang bisa melindungi produk dari goncangan atau kerusakan, memperpanjang umur simpan produk, memiliki sisa ruang yang cukup dalam kemasan, meningkatkan nilai jual produk, serta memperhatikan aspek lingkungan. Hal terakhir seringkali diabaikan oleh para produsen di Indonesia, penggunaan bahan plastik yang sulit diurai tanah di negara yang memiliki kesadaran membuang sampah tidak pada tempatnya merupakan suatu kelalaian dalam poin memperhatikan aspek lingkungan.

Fokus utama dalam pengemasan yaitu “migrasi” bahan kimia dari kemasan kedalam produk, untuk menghindari hal-hal tersebut bisa dilakukan cara Aceptic Packaging yaitu proses pengemasan dengan proses thermal atau menggunakan panas, yang bisa dilakukan dengan pasteurisasi atau sterilisasi, Pasteurisasi yaitu dengan hanya membunuh bakteri patogen yang ada di produk dan kemasan saja, sedangkan sterilisasi dengan cara membunuh bakteri patogen dan non patogen.Selain dengan Aceptic packaging, dengan cara impact sterilizen dimana proses sterilisasi dilakukan didalam kemasan, Pertama-tama kemasan yang biasanya berupa kaleng atau botol di exhaust sebelum diisi produk kemudian baru di sterilisasi, Metode ini baru-baru ini dilakukan dalam Gudeg Kaleng khas Jogja.

Kebalikan dari metode impact ini yaitu aceptic filling, dimana produk dan kemasan disterilisasi secara terpisah atau sterilisasi berada diluar kemasan. Contohnya pada susu UHT (Ultra Hight Thermal) atau HTST (High Thermal Short Time) dimana susu sebelum dikemas dipanaskan dahulu dengan plate heat exchanger, sebuah alat yang terdiri dari plat berrongga yang berfungsi sebagai penukar panas.Bagaimana dengan pengemasan terhadap produk-produk agroindustri segar seperti buah, sayuran, dan daging?  Teknologi pengemasan produk-produk segar ini bisa dilakukan dengan metode MAP atau Modifield Aceptic Packaging dimana terlebih dahulu dilakukan modifikasi udara untuk mencegah terjadinya oksidasi, cara ini bisa dilakukan dengan menurunkan atau menaikkan presentase Oksigen atau karbondioksida di udara, Pada umumnya presentase O2 sekitar 20,5% dan CO2 0,02%.

 

Berikut merupakan fungsi dasar dari pengemasan terhadap produk industri pertanian.

 

  • Sebagai Wadah atau kemasan sebagai faktor dasar

Kemasan akan mengcover produk dalam proses distribusi, kemasan/wadah terdiri dari kemasan primer yang menutupi bahan secara langsung, kemasan sekunder sebagai pelindung kemasan premier, serta kemasan tersier yang biasanya digunakan untuk memudahkan dalam proses transportasi.

  • ¬†Proteksi

Berfungsi sebagai pelindung dari air, kerusakan mekanis akibat goncangan atau benturan pada produk.

  • Preservasi

Kemasan untuk melindungi produk dari kerusakan biologis dan kimiawi, seperti produk tidak renyah atau tengik akibat oksidasi yang terjadi dalam produk selama penyimpanan. Contohnya: untuk produk yang menggunakan label dari tinta harus diletakkan dibagian luar kemasan agar tidak mencemari produk.

  • Kenyamanan

Pada dasarnya produk yang digunakan adalah produk lama namun diberi kemasan baru yang lebih menarik yang bisa dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup, kemasan mudah dibuka, serta adanya inovasi seperti kemasan langsung bisa dimasukkan dalam microwave atau microable.

  • Komunikasi

Hal ini berkaitan dengan strategi marketing, identifikasi, kualitas, jumlah, serta kecenderungan pada konsep “Konsumen memilih produk dengan mata”.

  • Portion Control

Berkaitan dengan pengendalian porsi penggunaan suatu produk, porsi yang tidak sesuai akan mengakibatkan kekecewaan pada konsumen, misalnya produk kopi sachet yang seharusnya disajikan untuk satu gelas digunakan untuk penyajian 4 gelas, tentu akan memiliki kenikmatan yang berbeda. Porsi kontrol ini akan memberikan jaminan kesesuaian rasa terhadap konsumen.

Fungsi dari pengemasan sendiri adalah sebagai pelindung kualitas dari produk dan menjaga dalam pengiriman bahan, namun dalam pengemasan kita juga harus memperhatikan aspek social budaya atau lingkungan sekitar.

Sedikit flashback kebelakang, pada jaman dahulu di pedesaan masyarakat kita membuang sampah cukup dengan membuat lubang lalu menguburkan ditanah, tentu bukan menjadi masalah ketika itu sampah kebanyakan merupakan sampah organik dimana pengemasan saat itu masih menggunakan daun/kertas.

Metode lama pembuangan sampah tersebut terbawa hingga sekarang yang sudah bukan jamannya kemasan organik lagi, namun sudah berganti dengan plastik, logam atau gelas sehingga sulit untuk terurai di tanah.

 

Comments
To Top